BISNIS CINTA

01
MENCINTAI DIRI

“Jika seorang manusia dipanggil untuk menjadi penyapu jalanan, ia harus menyapu jalanan, bahkan ketika Michaelangelo melukis, Bethoven mengubah musik dan shakespear menulis puisi. Ia harus menyapu jalanan dengan sangat baik sehingga seluruh penghuni bumi dan syurga akan berhenti sejenak di sini hiduplah penyapu jalanan hebat yang mengerjakan pejerjaannya sangat baik.
–Martin Luther King–

Ketika hendak menulis bab ini, teringatlah saya akan sebuah sms dari seorang sahabat yang berbunyi, “Jika hidup adalah anugerah, maka tidak ada yang pantas untuk dikeluhkan”. Membaca sms itu, ada sesuatu yang tiba-tiba menyusup dalam lubuk batin saya, sesuatu yang perlahan menghadirkan rasa sensasi yang luar biasa, sesuatu menyingsingkan kemuraman wajah, sesuatu meringankan semua beban. Dan dunia pun terlihat begitu indah sekali.

Hidup adalah anugerah, semua manusia, tanpa terkecuali tercipta menjadi makhluk paling istimewa dan lahir dengan harta yang melimpah. Bagaimana tidak istimewa, masing-masing dari manusia tercipta dengan sangat spesial, hanya satu-satunya, bayangkan seorang desainer yang menciptakan baju yang khusus yang sama sekali berbeda dengan baju yang lain, apakah ini tidak istimewa. Ini juga yang terjadi pada diri kita, kita diciptakan secara khusus hanya satu-satunya yang mirip dengan diri kita, yaitu diri kita sendiri

Kita hadir bukanlah sebuah kebetulan, bukan pula sebuah kecelakaan, kita memiliki kode DNA sendiri yang benar-benar unik, yang merupakan stempel akan keaslian kita. Bayangkan sebuah sebuah memori computer yang memiliki daya tampung jutaan Giga Bytes, padahal memori otak kita melampaui semua itu, karenya jutaaan peristiwa dalam kehidupan kita berhasil terekam di sana. Bayangakan sebuah komponen televisi yang memiliki kurang lebih 60. 000 komponen fotografik listrik, yang mampu menangkap gambar dan membuat kamera mampu “meninjau” daerah sekitarnya, sesungguhnya mata kita memiliki lebih dari 137 juta elemen yang serupa.

Semua manusia, tanpa terkecuali terlahir sebagai orang kaya. Cobalah kita periksa kekayaan apa saja yang telah kita miliki; ada dua mata indah yang menghias raut wajah kita. Mata yang mahal harganya. Mata yang seandainya dijual akan lebih mahal dari mobil Mercy. Lalu ginjal kita, apakah ia lebih murah dibandingkan sepeda motor. Bagaimana dengan daun telinga kita, kedua tangan kita, kedua kaki kita. Silahkah dihitung, seberapa banyak aset kekayaan yang kita miliki

“Subhanallah”, itulah satu-satunya kata yang bisa terlontar, manakala penghitungan itu mulai saya lakukan. Banyak orang yang menganggap itu bukanlah aset kekayaan, sementara yang lain rela merogoh uang ratusan juta hanya untuk mendapatkan semua itu.

Sesungguhnya, kita adalah orang-orang kaya, dalam diri kita aset melimpah telah berada dalam genggaman, tubuh kita begitu mahal, lebih-lebih dengan otak kita, bahkan Allah swt. dzat pencipta kita terang terang memuji kita sebagai sebagus-bagusnya ciptaan, sayang, semua ini sering kita lupakan, kita merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung, orang yang paling tidak berarti, lalu memenuhi kehidupan ini dengan aneragam keluhan. Jika hidup kita sendiri kita anggap sebagai beban dan diri kita kita anggap tidaklah berharga, maka apa yang bisa kita berikan kepada oranglain?

Dunia entrepreneurship adalah dunia memberi, kita memberikan sesuatu kepada oranglain, lalu orang lain pun memberikan sesuatu kepada kita. Mengapa ada orang yang mau menjadikan kita menjadikan kita sebagai bawahannya, karena orang tersebut mengharap ada sesuatu yang kita berikan kepadanya, mengapa ada orang yang mau menjadikan kita sebagai atasannya, karena mereka mengharap ada sesuatu yang bisa kita berikan kepadanya, mengapa ada orang mau menjadi relasi kita, karena mereka mengharap ada sesuatu yang bisa kita berikan kepadanya. Dan begitu seterusnya, selalu saja ada sesuatu yang diharap oleh kita, dan kepada kita, ada hubungan kebutuhan secara timbal balik antara atasan dengan bawahannya, antara penjual dan pelanggannya, antara sesama teman sejawat.

Apa yang diberikan antara satu dengan yang lainnya tentulah berbeda-beda, satu orang memberikan kecerdasan otaknya, oranglain memberikan kekuatan ototnya, ada orang memberikan kemerduan suaranya, ada pula yang memberikan kemampuan manajerialnya, ada yang memberikan kemampuan menghitungnya, ada pula yang memberikan kecekatan tangannya dan begitu seterusnya..

Maka karenanya lahir beraneragam profesi, ada tukang pos yang pandai menghafal alamat, ada kasir yang jeli membuat perhitungan, ada seorang satpam yang memiliki kema,puan berkelahi, ada seorang bos yang memiliki segudang ide cemerlang, ada juga salesmen yang memiliki kecanggihan menawarkan barang.

Dalam anekagaram hubungan itu, ada satu kaidah yang berlaku untuk semua. Seseorang harus terlebih dahulu memiliki nilai, agar oranglain mau memakai dirinya. Seseorang harus terlebih dahulu membuat dirinya berharga, agar oranglain melihat betapa berharganya dirinya. Dan tangga kesuksesan hanya bisa didaki oleh orang-orang yang cinta terhadap diri dan percaya akan kehebatan dirinya. Inilah yang pernah dinasehatkan oleh Emerson, “Sesungguhnya kepercayaan terhadap diri merupakan rahasia pertama menuju keberhasilan”

* * *.
Meniti jalan panjang kehidupan ini, teramat banyak kerikil-kerikil tajam yang siap menjadi batu sandungan, ada anekaragam rintangan yang menghambat perjalan untuk maju, ada pula hembusan angin masalah yang bertiup teramat kencang dan memperlambat jalananya perjalanan. Namun, hambatan yang paling besar sesungguhnya tidak datang dari luar, tapi dari dalam diri kita sendiri. Keragu-raguan akan kemampuan diri sendiri, perasaan memandang diri terlalu rendah yang ujungnya adalah penolakan atas diri menjadi biangkerok dari setiap keterpurukan

Banyak orang yang begitu pemurung, melihat dunia ini begitu suram, lalu seharian hanya merenung tak tentu arah, hari berganti hari, minggu berganti minggu, tahun berganti tahun, tidak ada perubahan yang berarti, selain ia terlihat semakin tua dan semakin terang menjadi pecundang. Dalam otaknya hanyalah, gambaran-gambaran negatif, seperti ;

Saya orang bodoh
Saya tidak memiliki bakat
Saya tidak pantas memegang tanggungjawab
Saya tidak kuat untuk melakukan sesuatu
Saya tidak memiliki sistematika yang jelas
Saya pemalas
Saya orang yang tidak disiplin
Saya tidak dapat bekerja tanpa didampingi
Saya tidak pantas mendapatkan promosi
Saya tidak akan berhasil mengatasi masalah
Saya tidak tahu caranya bergaul
Saya tidak berguna

Dan diantara anggapan-anggapan itu, sesungguhnya tidak ada satu pun yang benar, sayang karena terlanjur mempercayainya, dan disugestikan secara berulang-ulang, maka ketidak benaran itu perlahan menjadi benar. Kita pun menjadi orang yang terpuruk, tak ada yang mau bekerjasama dengan kita, masalah bukan pada diri oranglain, tapi masalahnya ada pada diri kita sendiri, diri yang tidak cinta pada dirinya sendiri

“Tidak ada seorang pun yang dapat menjadikan anda rendah diri tanpa persetujuan anda” demikian Roosevelt memberikan nasehat kepada kita. Bila Tuhan sendiri telah tegas mengakui begitu indahnya dan sempurnanya ciptaan-Nya yang bernama manusia itu. Maka tidak ada lagi alasan untuk menilai diri sebagai yang tidak berarti, diri yang pecundang, diri yang tidak memiliki harga.

Boleh jadi kita hanyalah pegawai rendahan, sebagai pesuruh di kantor, tapi bila kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, melayani dengan penuh ketulusan, melakukan dengan cara yang terbaik, maka tak ada seorang pun yang memandang kita sebagai orang rendahan.

Boleh jadi kita hanya seorang supir taxi, tapi bila kita merasa berharga dengan pekerjaan itu dan melakukannya dengan sebaik mungkin, para pelanggan kita pun akan mengangkat topi tinggi-tinggi dan menaruh respek yang luar biasa

Sebaliknya, meskipun kita seorang profesor, namun bila kita melakukan pekerjaan tersebut dengan asal-asalan, memasang muka muram, dan terlihat tidak bergairah, bahkan mahasiswa semester awal pun akan menganggap rendah diri anda.

Renungkan puisi indah persembahan Douglas Malloch, berikut ini :

Jika kamu tidak jadi cemara di puncak bukit
Jadilah belukar di lembah,
Tapi, belukar kecil terbaik di tepi sungai
Jadilah semak jika kamu tidak bisa jadi pohon
Jika kamu tidak bisa menjadi semak, jadilah sejumput rumput dan membuat jalan lebih ceria
Jika kita tidak bisa menjadi ikan muskie, jadilah ikan ikan bass
Tapi jadilah ikan bass paling lincah di danau
Kita semua tidak mungkin jadi kapten, kita harus jadi awak.
Selalu ada sesuatu untuk kita di sini
Ada hal besar dan kurang besar untuk dikerjakan
Dan tugas yang harus kita kerjakan adalah yang terdekat
Jika kami tidak bisa jadi jalan raya, jadilah jalan setapak
Jika kamu tidak bisa menjadi matahari, jadilah bintang
Bukan ukuran yang membuatmu menang atau kalah
Apapun dirimu, jadilah yang terbaik

Singkirkan semua anggapan buruk pada diri anda, dan mulailah untuk melihat betapa istimewanya diri anda, berlakulah laksana orang yang paling istimewa, Yakini bahwa anda sepenuhnya adalah orang baik, anda orang yang jujur, rajin, tulus, dan suka bekerja. Anda membaktikan diri anda pada teman-teman Anda, kepada rekan dan perusahan tempat anda bekerja. Anda kuat, percaya diri dan bertanggungjawab. Anda berpengetahuan luas, pandai dan berpengalaman. Anda tidak hanya bermakna bagi orang dekat anda tapi juga bagi komunitas di sekitar Anda. Anda dilahirkan istimewa dan anda memiliki hidup yang ingin anda capai. Anda adalah orang yang sempurna. Inilah yang selalu dipikirkan orang-orang sukses sepanjang jaman.

Brian Tracy dalam bukunya Change Your Thinking, Change Your Life, mencatat bahwa dari hasil wawancara dengan beratus orang-orang sukses yang pernah dilakukan, diketahuilah dengan secara jelas, bagaimana kepercayaan-kepercayaan itu diprogram dan kepercayaan apa saja yang telah mereka (orang-orang sukses) kembangkan sejak kecil. Dan kepercayaan inti yang terpenting itu adalah, “Saya adalah seseorang yang benar-benar baik dan saya pasti akan meraih kesuksesan besar dalam hidup saya. Segala sesuatu yang terjadi pada diri saya sekarang, apakah baik atau buruk, hanyalah bagian proses dari pencapaian kesuksesan yang besar dan kebahagiaan yang jelas akan datang pada diri saya”

02
BELAJAR MENCINTAI PEKERJAAN

Rahasia kebahagiaan bukanlah dalam mengerjakan apa yang disukai,
tetapi menyukai apa yang dikerjakan. (Khatarin Graham)

Suatu hari seorang profesor pergi ke sebuah lapangan konstruksi, menghampiri tiga orang pekerja bangunan yang tengah sibuk menyusun batu bata, kepada satu diantara mereka bertanyalah profesor, “Bapak, apa yang sedang anda lakukan?” “Saya hanya melakukan apa yang diminta untuk dilakukan” jawab pekerja pertama “Jika ada satu masalah yang ingin anda sampaikan, anda bisa menemui mandor kami di sana?” lanjutnya sembari menunjuk ke seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka. Mendengar jawaban itu, sang profesor tersenyum, kemudian berlalu meninggalkan pekerja pertama, menuju pekerja kedua, dan mengajukan pertanyaan yang serupa. “Saya mengerti, apa yang saya kerjakan tidaklah biasa, bahkan teramat susah untuk disebut sebagai sebuah pekerjaan, tapi saya dibayar 50. 000 perhari dan sama seperti oranglain dan saya memiliki banyak tagihan yang harus saya bayar, juga tanggungan anak istri. Karenanya, saya tidak akan mengeluh” Profesor pun berlalu meninggalkan pekerja kedua, tak lupa ia mengucapkan terimakasih, ketika dari kejauhan ia melihat seorang pekerja yang teramat berbeda dengan dua pekerja sebelumnya, ia tampak begitu semangat dan sangat menikmati pekerjaannya, wajahnya terlihat berseri-seri. Penasaran dengan pekerja ini, profesor pun mendekat, lalu bertanya, “Bapak, apa yang sedang anda lakukan, hingga anda terlihat penuh semangat?” Penyusun batu bata ini mendongak dan tersenyum dan dengan sinar di matanya berkata, “apakah anda tidak melihat, kalau saya sedang membuat sebuah istana”
Kisah semacam ini, teramat mudah kita jumpai di sekeliling kita, di pertokoan, di pasar-pasar, di perkantoran atau pun di pabrik. Ada orang yang begitu giat dengan pekerjaannya, begitu energik, dan semua pekerjaannya selalu selesai dengan sempurna, namun ada pula orang yang selalu menghiasi wajahnya dengan kemurungan, yang mulutnya selalu berucap keluhan-keluhan dan yang pekerjaannya selalu terbengkalai. Di sebuah tempat yang sama, dengan pekerjaan yang sama, ada seseorang yang melakukan pekerjaannya dengan teramat cepat dan ada yang begitu lambat.
Apa sesungguhnya yang membedakan mereka? Mengapa seseorang begitu bersemangat, sementara yang lain tidak? Mengapa yang satu begitu mudah menyelesaikan pekerjaannya dan selalu tepat waktu, sedang yang lain selalu lambat? Dan kita pun sudah sama-sama tahu akan jawabannya. Yaitu cara pandang yang kemudian berujung rasa suka dan tidak suka. Dua pekerja pertama melihat pekerjaan mereka sebagai sesuatu yang tak berharga, rasa ketidakberhargaan inilah yang membuat mereka tidak begitu menyukai pekerjaannya, lalu tetap menjalankannya sebagai sebuah beban. Adapun satu pekerja terakhir melihat pekerjaan sebagai karya seni dan pertualangan, ia begitu semangat mengerjakannya, ia menjadi bahagia melihatnya, oranglain pun dibuatnya senang
Bekerja adalah bagian dari kehidupan manusia yang tak mungkin ditinggalkan, siapapun orangnya; Apakah ia tinggal di pedesaan ataupun tinggal di perkotaan, apakah ia anak pejabat ataukah anak seorang petani kecil, apakah ia seorang terpelajar atau tidak terpelajar, ia butuh bekerja. Begitu manusia lahir, maka ia harus memenuhi kebutuhan kehidupannya, ia membutuhkan makanan, ia membutuhkan tempat tinggal, ia membutuhkan sandang juga kebutuhan-kebutuhan lain. Saat seseorang masih kecil kebutuhan itu dipenuhi keluarganya, namun ketika usia mulai beranjak dewasa, mau tidak mau ia harus memenuhi sebuah kebutuhannya sendiri. Dan untuk itu, ia harus bekerja.
Dalam dua puluh empat jam sehari, rata-rata orang menghambiskan separo waktunya di tempat kerja. Keluar di pagi hari dan baru pulang saat malam mulai menyelubungi bumi. Dan untuk separo kehidupan itu, ia memiliki kebebasan memilih, Akankan ia akan menjalaninya dengan penuh keringan atau ia menjalaninya sebagai beban, meratapinya, lalu menderita karenanya.
Tak peduli apakah ia seorang tukang sapu jalanan, apakah ia seorang pemulung, sopir angkot, dosen, atau pejabat. Bila ia menghendaki, maka kenikmatan itu selalu ada. Pun juga sebaliknya, tak peduli apakah ia seorang penjaga toko, seorang penulis, seorang bos perusahaan atau presiden, bila ia menginginkan penderitaan juga selalu ada. Pilihan antara dua sikap inilah sesungguhnya memiliki peranan penting yang menentukan keberhasilan atau ketidak berhasilan seseorang.
“Bekerjalah, Engkau akan mendapatkan uang banyak, dengan uang yang banyak engkau bisa membeli apapun yang engkau inginkan”, inilah nasehat yang sering kita dengan dari orang-orang di sekeliling kita. Mereka bisa jadi adalah sahabat kita, tetangga kita, guru kita bahkan orangtua kita. Mencermati nasehat ini, kita akan menemukan satu premis bahwa uang adalah alat untuk mendapatkan kesenangan. Tujuan bekerja adalah untuk meraih uang, yang itu artinya bekerja adalah sarana untuk mendapatkan alat yang bisa digunakan meraih kesenangan atau kebahagiaan. Dengan demikian tujuan utama dilakukannya sebuah pekerjaan adalah untuk meraih kebahagiaan.

Lalu bagaimana jika dalam pekerjaan itu sendiri adalah penyebab dari penderitaan. Apakah itu bukan antitesis yang menolak hakekat dari tujuan bekerja. Dan ini yang seringkali terjadi pada orang-orang di sekeliling kita.

Banyak orang yang menerima gaji besar dari pekerjaan yang ia lakukan. Banyak orang yang memperoleh banyak waktu cuti dari hari-hari bekerjanya. Mendapatkan bantuan-bantuan ongkos rumah sakit dan purna jabatan. Tapi, pekerjaan yang ia lakukan benar-benar tidak ia sukai, setiap hari ia merasa tersiksa dengan pekerjaannya, namun terus bertahan demi pundi-pundi uang. Dari sisi luar dia memang orang yang kaya, mobilnya mewah, apartemen dimana. Tapi sesungguhnya ia adalah orang yang paling gagal. Pekerjaan yang semestinya sebagai sarana meraih kebahagiaan justru berbalik arah, pekerjaan itu menuntut pelakunya mengorbankan kebahagiaannya sendiri. Hidup pun seperti dalam neraka.

Di atas segalanya kita harus ingat bahwa “Hidup tidak dipergunakan sebagai tempat penderitaan melainkan untuk dinikmati” suatu kehidupan yang memuaskan dan bahagia merupakan sesuatu yang kita cari. Namun, hendaknya kita memiliki rasa yang benar dan menyadari yang baik bahwa kebahagiaan bukanlah merupakan hasil dari suatu sikap berdiam diri, melainkan dari usaha penyerapan yang kreatif.
Ingat, jangan pernah bekerja hanya untuk uang, karena itu tidak akan pernah memuaskan, tidak juga membantu kita tidur di malam hari. Jauh lebih mudah menikmati sesuatu yang kita anggap menyenangkan, dari pada sesuatu yang kita anggap kewajiban

* * *
Dalam dunia entrepreneurship, kecintaan terhadap apa yang kita lakukan sesungguhnya menjadi persoalan yang teramat fundamental. Dengan berbekal rasa cinta yang besar itulah kita bisa mencurahkan seluruh pikiran kita untuk pekerjaan kita, kreatifitas pun akan muncul dengan sendirinya, dan melakukannya dengan jam yang tak terbatas. Saat persoalan muncul, kita pun tertantang untuk menuntaskannya
Orang yang paling sukses adalah orang yang menikmati pekerjaannya. Kebahagiaan hidup yang sebenarnya berasal dari keasyikan kreatif yang menyeluruh dalam suatu pekerjaan dan bukan hasil dari luar pekerjaan itu. Bila kita menikmati pekerjaan kita, maka kita akan merasakan suatu perasaan keselarasan, penuh arti dan kenyamanan. Perasaan berhasil dalam diri dalam jangka panjang akan meningkatkan keberhasilan.
Orang yang paling sukses adalah seseorang yang mencintai pekerjaannya, dengan kecintaannya, ia menganggap sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya sebagai sesuatu yang menyenangkan, karena perasaan senang itulah ia begitu bersemangat dalam menjalaninya, selalu memberikan energi yang lebih selalu bekerja dengan konsentrasi yang penuh dan tentunya selalu memberikan waktu secara maksimal. Ia sendiri tidak lagi merasakan pekerjaan layaknya sebuah pekerjaan tapi sebuah permainan yang mengasyikkan dan petualangan yang menantang.
Bagi mereka, sebuah pekerjaan layaknya sebuah aktivitas seni, dan karenanya benar-benar terasa menyenangkan. Tidak sedikit dari mereka, yang mau melakukannya tanpa digaji, apalagi itu justru menghasilkan pundi-pundi uang.
Mereka teramat enjoy dengan pekerjaannya, hingga mereka lupa bahwa itu adalah sebuah pekerjaan. Beberapa dari mereka bahkan mengatakan. “Saya belum pernah bekerja sehari pun sepanjang hidup saya” kerja dan bermain-main di mata mereka tak jauh berbeda. Mereka bisa menemukan kapan mereka mulai bekerja, kapan mulai bermain. Ketika mereka tidak berada di tempat kerja, mereka berpikir dan membincangkan pekerjaan mereka. Ketika mereka tidak berada di tempat bekerja, mereka berpikir dan memperbincangkan pekerjaan mereka. Dan, ketika mereka berada di tempat kerja, mereka merasa santai dan melebur ke dalam pekerjaan mereka. Ada ribuan pekerjaan di dunia ini, dan ada bebas memilih apa yang ingin Anda lakukan. Inilah yang ditemukan oleh Brian Tracy, dalam buku change your thingking change your life, dan dari sini ia menyimpulkan bahwa rahasia kesuksesan seorang milyader adalah terletak pada keberhasilan mereka menemukan pekerjaan yang paling mereka nikmati. Ketika mereka mengerjakannya sehingga mereka dapat melakukannya dengan sepenuh hati.
Ini juga yang pernah dinasehatkan seorang motiviator dunia, Napoleon Hill yang mengatakan bahwa salah satu rahasia terbesar dalam meraih kesuksesan adalah dengan memutuskan pekerjaan apa yang paling kau nikmati dan kemudian temukan jalan sehingga anda dapat memperoleh penghasilan dari apa yang Anda senangi itu.

Hari ini dunia pasti mengenal nama Henry Ford seorang pengusaha paling sukses dibidang lokomotif, tapi sedikit yang tahu bahwa dia adalah seseorang yang sangat pemuja kendaraan bermotor. Dengan kecintaan yang luar biasa itulah, ia berjalan menuju tangga kesuksesannya. Dunia juga pasti mendengar Bill Gate, seorang pengusaha yang luar biasa kayanya, namun orang lupa bahwa kesuksesannya juga berjalan beriringan dengan kecintaannya yang luar biasa pada perangkat lunak computer, sesuatu yang terus ia geluti dan yang berhasil mengantarkannya sebagai pengusaha nan sukses. Mengikuti jejak mereka, tanyakan pada batin kita sendiri, “Apakah kita benar-benar telah menikmati pekerjaan kita?

03
BELAJAR UNTUK MENCINTAI KONSUMEN

Seandainya ada rahasia kesuksesan, maka rahasia itu adalah kemampuan mendapatkan sudut pandang oranglain dan melihat segalanya dari sudut pandangnya selain dari sudut pandang kita sendiri
– Henry Ford –

Dalam perjalanan hidup ini, pastilah kita telah mengalami beranekagaram peristiwa yang berhubungan dengan oranglain. Ada saat-saat yang menyenangkan bagaimana kita diperlakukan oleh oranglain dengan istemewa, disambut dengan pelukan hangat dan tak lupa seulas senyum, terasa sensasi yang luar biasa yang menyentuh kalbu kita. Pristiwa nan indah ini akan tersimpan kuat dalam memori kita, membuat kita rindu untuk mengulang momen-momen indah itu.

Sebaliknya, tak sedikit juga mengalami perjumpaan dengan orang yang begitu menyebalkan, orang yang melihat kita begitu rendah, menatap dengan tatapan dingin, dan memasang raut muka yang masam. Sepertinya kita tak lebih dari seongkok besi tua yang tidak pantas diperdulikan. Sudah syukur kita Cuma didiamkan, karena tak sedekit dari orang macam ini yang begitu pemurah dengan makian. Dan kita pun menjadi sangat kesal. Dalam batin ada perasaan gondok bahkan berdoa semoga orang semacam ini dienyahkan atau paling tidak jangan sekalipun perjumpaan model macam gini terulang.

Bayangkan, apa yang akan terjadi bila kedua peristiwa semacam ini berlangsung diantara dua orang yang sedang melakukan transaksi, antara penjual dan pelanggannya antara produsen dan konsumennya. Bayangkan pula jika salah satunya adalah kita sendiri.

Bila peristiwa yang terjadi adalah peristiwa yang pertama, dimana kita diperlakukan dengan teramat istimewa, berbunga-bungalah hati kita. Rasanya, tidaklah menyesal bila kita harus merogoh begitu banyak uang dari kantong kita. Tapi jika peristiwa yang kedua yang terjadi, dimana kita begitu diremehkan, jangankan transaksi buru-buru kita meninggalkan tempat itu, kapok dan berjanji dalam batin untuk tidak lagi mendapati tempat itu. Kalau ini yang terjadi, dan tidak hanya pada satu dua pelanggan, bahkan semua pelanggan maka bias dipastikan tidak berapa lama, toko pun akan segera gulung tikar, lantaran tidak ada satu pun yang sudi membelanjakan uangnya di toko itu.

Memperhatikan ilmu marketing (pemasaran), akan kita temukan bahwa inti dari ilmu tersebut adalah memuaskan konsumen/ sehingga menjadi loyal. Sebagus apapun sebuah produk atau jasa, tidak akan memiliki nilai samasekali jika tidak membuat konsumen puas. Sebaliknya, konsumen akan rela mengeluarkan berapapun biayanya, jika ia menganggap produk itu begitu bernilai baginya. Semakin banyak konsumen yang loyal pada kita, semakin cepat cepat perputarang uang itu. Semakin banyak untung yang kita dapat dan semakin sejahteralah kita.

Pelanggan adalah raja. Inilah ajaran kuno yang melekat kuat dalam benak kita. Para pelanggan itulah yang membuat roda ekonomi berputar, mereka juga yang bias memenuhi pundit-pundi kita dengan uang. Apa yang mereka keluarkan adalah kunci keberhasilan sebuah usaha. Seberapa banyak keuntungan bisa didapat, itu teramat bergantung pada seberapa banyak barang dagangan yang laku terjual. sementara itu berapa banyaknya barang dagangan itu laku teramat bergantung pada suasana hati mereka. Dan demikianlah, jauh sebelum persoalan kwaliti produk, yang tak kalah pentingnya dalam dunia usaha bagaimana kita menyentuh hati para pembeli kita
Tentang hal ini, saya jadi teringat sebuah kisah mengesankan yang dituturkan oleh Parlindungan Marpaung dalam bukunya yang berjudul “Setengah isi setengah kosong”.

Al-Kisah ada seorang manajer dari Jakarta yang sering melakukan kunjungan kerja keberbagai daerah, Badrun namanya. Salah satu daerah yang biasa kunjungi adalah kota Semarang. Suatu hari ketika dia menginap di salah satu hotel berbintang di Semarang, saat makan malam ia bertemu dengan jenderal manager hotel tersebut, Sueb namanya. Sehabis makan malam mereka berbincang-bincang seputar bisnis. Pembicaraan melebar sampai seputar makanan. Rupanya Badrun sangat menyukai makanan lumpia Semarang.

Pak Sueb nampaknya cukup mengerti dengan keinginan Badrun, sesaat kemudian dia pamit sebentar dan datang kembali sambil membawa beberapa lumpia khas buatan dapur hotel itu. Badrun kaget bukan kepalang atas kejutan ini, bahkan di dalam lidahnya lumpia buatan hotel ini memiliki cita rasa yang berbeda dengan lumpia-lumpia di tempat lain yang pernah dinikmatinya. Diakhir acara makan malam, pak Sueb meminta badrun untuk menghubunginya jika sedang bertugas di Semarang.

Bulan berikutnya, Badrun kembali mendapat tugas ke Semarang dan menginap di hotel yang sama. Sebelumnya, staff Badrun telah memesan kamar di hotel itu. Begitu masuk betapa kagetnya Badrun karena yang diciumnya pertamakali adalah aroma lumpia kesukaannya. Hatinya kembali tersentak ketika ia melihat lima lumpia hangat telah tersedia diatas meja. Di hampirinya meja tersebut, tak lama pandangannya tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di samping piring lumpia. Luar biasa! Sekali lagi ia tersentak sekaligus diliputi rasa haru. Di atas kertas putih itu teruntai sebuah kalimat dengan tulisan tangan yang berbunyi, “Selamat datang pak Badrun, selamat menikmati lumpia kesukaan bapak”

Berikutnya setiap kali menginap di hotel itu, entah jam berapapun ia datang, selalu tersedia tiga sampai lima lumpia kesukaannya sebagai makanan selamat datang. Bertahun-tahun Badrun dinas ke Semarang, tetap menggunakan hotel tersebut sebagai tempat menginap, sekalipun harga sewanya sudah mengalami kenaikan berkali lipat. Bahkan ketika perusahannya mengeluarkan peraturan yang membatasi anggaran menginap di hotel, Badrun tetap menginap di sana. Tak heran jika seorang temannya bertanya, mengapa dia seperti terhipnotis untuk tetap menginap di hotel tersebut sekalipun harus menomboki kekurangan biaya akomodasi dari perusahannya? Dengan enteng Badrun “Lumpianya Enak”

Sejujurnya, bila kita menengok diri kita sendiri, pastilah kita juga akan menjumpai kisah nan indah semacam ini. Kisah ini mungkin terjadi saat kita keluar kota, saat kita belanja di toko-toko atau saat kita sedang mengunjungi sebuah warung makan. Dan sebagaimana pak badrun kita pun tergoda untuk kembali ketempat yang sama.

Cintailah pelanggan anda. Inilah pesan utama dalam cerita tersebut. Karena itu bagian dari keuntungan yang unlimited bagi usaha anda. Satu orang terkesan, bukan hanya dirinya yang akan kembali untuk melakukan transaksi. Sangatlah mungkin, akan mengundang yang lain, yang mendengar kisah mengesankan yang dituturkan pelanggan anda ini. Ia akan mengajak adiknya, kakaknya, tetangganya atau bahkan kedua orangtuanya.

Dalam dunia bisnis, pelayanan menjadi unsur yang paling utama. Siapa yang paling baik memberikan pelayanan dialah yang paling berhak mendapatkan segala keuntungan. Kata” deserve” yang berarti “berhak” atau “patut” itu berasal dari bahasa latin “De” yang berarti “dari” dan “servire” yang berarti “melayani”. Karenanya kata “deserve” itu berarti “dari melayani”. Orang yang paling baik dalam masyarakat adalah mereka yang telah berhasil melayani oranglain lebih baik daripada oranglain.

* * *
Dalam dunia bisnis, persoalan cinta menjadi persoalan yang krusisl, Semakin besar rasa cinta anda kepada pelanggan-pelanggan anda, semakin baik perlakukan anda atas pelanggan-pelanggan anda itu, semakin baik pelakuan anda kepada anda, semakin merasa nyaman pelanggan. Semakin nyaman pelanggan anda semakin suka ia berbisnis anda. Belum lagi jika relasi anda itu menceritakan kepada teman-temannya betapa baiknya anda terhadap mereka. Maka sudah pasti realsi anda akan terus bertambah, dan itu berarti akan menambah keuntungan dalam bisnis anda.

Menyusuri perjalanan bisnis rasulullah, kita akan menemukan teladan yang teramat indah bagaimana semestinya kita mencintai para pelanggan kita dan bagimana kita memberikan peratian yang tulis pada para pelanggan-pelanggan kita

Pada suatu hari, lelaki muda bernama Muhammad membawa dagangan saudagar kaya, Siti Khadijah. Dan salah satu barang dagangan yang beliau bawa adalah kain. Lalu datanglah seseorang yang hendak membeli dagangan beliau. Ketika ditanya oleh pembeli, beliau menjawab dengan sangat jujur, “Kain ini saya ambil dari Ibu Khadijah denga harga sekian (Sambil menyebut nilai/ harga), kalau saudara hendak membeli silahkan, dengan harga yang kita sepakati, dan saya mendapat untung dari kain ini”

Dalam riwayat lain, diceritakan pula, bahwa pada suatu hari ada seorang pembeli yang menanyakan kain yang pernah dibeli temannya. Lantas Muhammad saw. Menjawab, “kain yang saudara inginkan sudah habis, ini ada yang lain, tetapi beda dengan yang tuan maksud, dan harganya tentu berbeda dengan yang teman saudara beli tadi.
Lantas sang pembeli merasa kalau Muhammad saw. Hendak menaikkan harga kain tersebut karena sedang digandrungi oleh konsumen. Dan menurut pandangan pembeli ini, kain yang ditunjukkan Muhammad saw. Adalah kain yang sama persis dengan kain yang dibeli oleh temannya tadi

“Apakah engkau akan menaikkan harga kain ini?” tanya pembeli
Rasulullah menjawab, “Tidak, justru harga kain ini jauh lebih murah dari yang teman saudara beli tadi. Walaupun kain ini memang sama persis dengan yang teman saudara beli. Tapi kualitasnya berbeda

Pembeli itu begitu kagum dengan kejujuran sang penjual kain ini yang tiada lain adalah baginda Rasulullah. Padahal nabi memiliki kesempatan yang besar untuk menaikkanharga barabng yang yang dua beli tersebut. Namin tudak melakukannya bahkan sebaliknya

Dalam masyarakat pasar seperti tempat kita tinggal saat ini, semua transaksi dilakukan dengan dengan sukarela. Orang membeli suatu barang jika dia merasa bahwa dengan barang tersebut mereka akan menjadi lebih baik. Semakin banyak dan semakin baik anda melayani oranglain, semakin banyak yang potut menjadi milik anda

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abdul Hamzah, ia berkata “Aku telah membeli sesuatu dari Muhammad saw. Sebelum beliau menerima tugas kenabian dan karena masih ada satu urusan dengannya maka aku menjanjikan untuk mengantarkan kepadanya, tetapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, aku pun pergi ketempat tersebut dan Muhammad saw. Masih berada di sana. Muhammad saw. Berkata, “Engkau telah membuat aku resah, aku berada di sini selama tiga hari menunggumu (HR Abu Dawud)

Diceritakan oleh Sahabat Ali, “Nabi Muhammad saw. Meminjam beberapa dinar dari seorang tabib yahudi yang meminta pelunasan dari Nabi. Ketika Nabi memberitahukan pada yahudi itu, bahwa ia tidak punya apa-apa untuk membayar hutangnya, Yahudi tersebut berkata, “Saya tidak akan meninggalkanmu wahai Muhammad saw. Hingga Engkau membayar saya” Nabi pun berkata, “Kalau begitu saya akan duduk (siap untuk ditahan bersamamu) dan Nabi memang melakukan itu. Nabi melakukan shalat dzuhur, ashar, maghrib dan esoknya shalat shubuh. Dan para sahabat Nabi mengancam orang itu, dan Nabi pun menyadari tindakan mereka. Lalu mereka berkata : “Ya Rasulullah apakah orang yahudi ini yang menahanmu” mendapat pertanyaan itu. Nabi menjawab, “Tuhanku menahanku untuk tidak menyalahi kesepakatan yang telah aku perbuat, dengan Yahudi tersebut atau dengan oranglain.

Beberapa setelah itu, melihat langsung kejujuran yang luar biasa dan profesionalisme baginda Rasulullah, hati orang yahudi pun tersentuh, dan memutuskan untuk mengucap dua kalimat syahadat, ia berkata :

“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah swt Dan Engkau adalah Rasulullah, separoh kekayaan saya akan saya belanjakan di jalan Allah swt. Saya bersumpah, tujuan saya memperlakukan Engkau seperti ini semata untuk memastikan gambaran tentang Engkau yang telah diungkapkan dalam kitab Taurat yang berbunyi, “Muhammad saw. Ibn Abdullah, yang bertanah kelahiran kota Makkah, yang hijrah ke Taiba, dan yang memiliki kerajaan di Syiria, ia tidak bersifat kasar, keras, atau suka berteriak di jalan-jalan, dan tidak dikenali karena kekasaran atau pembicaraannya yang tidak senonoh” (HR. Baihaqi dalam Dalalil An-Nubuwah)

tak hanya itu dalam hadits-haditsnya tak lupa rasulullah mempetingatkan kita untuk memberikan perlakuan yang istimewa pada para pelanggan kita, semisal tidak memalsukan barang dagangan kita, bermurah hati dengan tidak mempersulit tawar menawar, dan memberikan kemudahan-kemudahan atas para pelanggan kita.

Rasulullah bersabda, Allah swt. Mengasihi orang yang bermurah hati, ketika menjual, ketika membeli dan ketika menagih (HR Bukhari dari Jabir bin Abdullah)

Rasulullah bersabda, “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualannya yang mempunyai aib sebelum dia menjelaskan (HR. Al-Quzuwaini)

“Saudagar yang jujur dan dapat dipercaya masuk dalam golongan para nabi, orang-orang jujur dan para syuhada (HR Tirmidzi)

04
BELAJAR UNTUK MENCINTAI BAWAHAN

Jika ingin oranglain bahagia, berlatihlah menujukkan rasa cinta
Jika ingin diri kita bahagia, berlatihlah menujukkan rasa cinta
–Dalai Lama–

to love another is to look at the good.
Deborah Waitley

Dari Ma’rur bin Suwaidi RA. Kepada Abu Dzar Rasulullah bersabda, “janganlah kamu memberikan tugas kepada hamba sahayamu melebihi kemampuan mereka; jika akan kamu tugaskan juga, hendaklah kamu membantunya” (HR Muslim)

“Bayarlah upah karyawanmu, sebelum kering keringatnya” (HR. Baihaqi)
Suatu hari seorang penulis buku bertemu dengan kawan karibnya yang seorang rektor. Dan bertanyalah sang penulis buku itu sahabat karibnya tentang aktivitas yang dilakukan. Dang kawan bercerita bahwa ia baru saja memecat seorang profesor. Ketika ditanya apakan sang profesor tidak kompeten. “bukan” jawab rektor itu “ia sangat mutahkhir dalam bidangnya. Yang menjadi persoalan adalah, tak seorangpun dibagian itu yang dapat mengingat rapat yang dihadirinya tidak berakhir dengan pertengkaran
Kemudian, berikanlah hak karyawan secara penuh, tidak berusaha mengurangi sedikit pun dari hak mereka. Demikian halnya, tidak seharusnya para pimpinan menunda waktu pemberian gaji setelah pekerjaannya selesai.
Para pimpinan hendaknya mengembangkan sikap saling mengerti dan percaya sehingga tidak terjadi saling curiga dan mengadu domba. Karena hal semacam ini tidak dibolehkan sebagaimana hadits Nabi
Sedangkan bagi seorang karyawan atau bawahan, Hendaknya ia selalu merasa diawasi oleh Allah ketika sedang melakukan pekerjaan, baik diawasi pimpinan atau tidak. Dalam
Sekalipun keadaanmu didzalimi, maka janganlah mengurangi kualitas kerjamu karena gajimu telah ditetapkan. Anda harus dapat dipercaya, tidak panjang tangan dan jangan berbuat jahat. Sesungguhnya seorang mukmin apabila diberi amanah ia tidak berkhianat. Dalam sebuah hadits dinyatakan

“Demi Allah, janganlah seseorang mengambil sesuatu yang bukan haknya, kecuali ia akan menemui Allah pada hari kiamat dengan membawa barang yang diambilnya.” (HR. Bukhari Muslim).
Jika memang pimpinan tidak ada, sesungguhnya Allah senantiasa hadir. Saling tolong-menolonglah kamu dengan pimpinan dalam hal saling menasihati dan tidak berlaku kikir tentang sesuatu yang bisa menyebabkan bertambahnya satu produksi. Dalam hadits diterangkan:

“Agama adalah nasihat.” (HR. Muslim)
Bersikap sopanlah terhadap mereka, bersyukurlah kepada Allah, dan posisikanlah dia pada posisi yang layak. Sebuah hadits terbaca demikian:
“Orang yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, maka ia tidak akan pandai berterimakasih pada orang.”
Jauhi olehmu berbuat hasud kepada pimpinan. Bercerminlah kepada orang yang ada di bawahmu dan jangan bercermin kepada orang yang ada di atasmu, karena itu akan menyebabkan seorang kufur atas nikmat Allah.
Anda harus bersikap baik dan sopan juga melakukan nasihat kepada sesama. Janganlah Anda menghasut teman kerjamu di hadapan pimpinan agar Anda mendapatkan keuntungan materi. Sebab, sebuah makar hanya akan menimbulkan kemudharatan kepada pelakunya. Siapa yang menggali kubur untuk saudaranya, maka ia hanya akan dimasuki oleh dirinya. Sebuah hadits menyebutkan: “Setiap atas muslim yang lainya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)

Dalam ayat lain Nabi bersabda: “Janganlah kalian menyakiti orang muslim, dan jangan menceritakan aibnya. Siapa yang menceritakan aib saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menceritakan aibnya, dan siapa yang aibnya sudah diceritakan Allah, maka aibnya akan terlihat sekalipun dalam perjalannya yang sepi.”
Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Demi zat yang menggenggam jiwaku, tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidak akan beriman kecuali kalian saling mencintai.” (HR. Muslim)

1. Jadilah Pendengar yang Baik
Carl Rogers, seorang pakar di bidang psikologi, pernah berkata bahwa penghalang yang terbesar untuk melakukan komunikasi pribadi adalah ketidaksanggupan seseorang untuk mendengarkan dengan baik, dengan penuh pengertian dan perhatian kepada orang lain. Jika anda diberi tugas untuk membimbing dan melatih seseorang maka hal ini merupakan salah satu hal terpenting yang harus diingat. Ketika anda sedang berbicara dengan bawahan anda jagalah agar anda tidak terlalu banyak bicara, melainkan lebih banyak mendengarkan keluhan dan masukan dari bawahan anda.

Kesediaan untuk mendengar akan memberi kesempatan kepada bawahan untuk mengutarakan keinginan dan pendapatnya. Dengan mendengar berarti anda memperhatikannya, anda mempunyai suatu perhatian yang konstruktif mengenai masalah yang dihadapi olehnya, dimana mungkin anda selaku atasan mempunyai alternatif solusi yang dibutuhkan orang tersebut.

Dengan demikian akan tercipta rasa aman dan nyaman sehingga bawahan anda lebih mau terbuka terhadap saran-saran yang diberikan. Selain itu mendengarkan seseorang yang secara bebas berbicara tentang dirinya sendiri merupakan jalan terbaik untuk mengenal lebih jauh siapa lawan bicara kita tersebut. Meskipun demikian mendengarkan tidaklah selalu berarti bahwa anda percaya terhadap segala yang anda dengar. Tentu saja untuk dapat menjadi pendengar yang baik dibutuhkan kesabaran dan kerendahan hati.

Jika anda adalah seorang atasan maka sudah seharusnya anda mengetahui apa yang wajib dan baik untuk dikerjakan atau diselesaikan bawahan anda. Anda juga harus dapat mengetahui secara pasti apakah bawahan anda mengerjakan tugas dengan suatu cara atau jalan yang aman yang dapat diterima oleh perusahaan. Jika ternyata bawahan anda dapat menyelesaikan tugas-tugas dengan cara-cara yang dapat diterima tetapi tidak sesuai dengan cara anda, maka sedapat mungkin biarlah ia menggunakan cara tersebut. Jangan cepat-cepat mengkritik atau pun memaksanya untuk melakukan menurut cara anda. Sebaliknya jika ia ternyata tidak dapat menyelesaikan tugasnya, maka anda perlu melakukan suatu perubahan. Langkah awal dalam melakukan perubahan tersebut adalah dengan membuat suatu persetujuan antara anda dan bawahan mengenai hal-hal yang mendasar dari pekerjaan tersebut.

2. Kenali Bawahan Anda
Sebagai atasan, anda harus mengetahui kesanggupan dan bakat-bakat anak buah anda dan menolong mereka untuk menggunakan kemampuannya untuk disalurkan dalam pekerjaan. Anda juga dituntut untuk mendorong usaha-usaha perbaikan diri bawahan, mengerti kebutuhan dan keinginan mereka, dsb. Sebagai contoh: anda harus dapat membedakan apakah bawahan anda lebih tertarik pada kesempatan dan tantangan karir atau pada materi seperti uang atau lebih pada status. Jika anda dapat mengindentifikasi hal ini maka akan lebih mudah bagi anda untuk mengarahkan dan memotivasi awahan anda.

Anda sudah semestinya anda mengenal bawahan anda, jika tidak secarapribadi sekurang-kurangnya anda mengenali karakter-karakter penting yang berguna bagi produktivitas bawahan tersebut. Beberapa supervisor/manajer merasa takut untuk mengenal lebih dekat bawahannya, karena dengan kedekatannya itu maka mereka akan menjadi terlalu lunak dan salah dalam menilai prestasi bawahan. Pendapat semacam itu sebenarnya merupakan suatu kekeliruan, karena mengenali seseorang dan menghargai kepribadian serta keunikan yang dimilikinya tidaklah berarti bahwa anda tidak menuntut ia untuk bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai dengan aturan yang berlaku.

Selain itu bawahan anda mungkin akan merasa bosan dan jengkel karena dorongan-dorongan anda untuk bekerja lebih giat dan bersemangat, sementara mereka mengetahui bahwa pekerjaan yang dikerjakan tersebut tidak begitu penting. Contoh: anda memberikan tugas atau proyek khusus kepada bawahan anda tanpa ada kejelasan apa tindak lanjutnya, kapan diaplikasikan dan tidak ada target pasar yang jelas, sementara bawahan anda tersebut masih harus mengerjakan tugas-tugas rutin yang sudah sangat jelas manfaatnya bagi perusahaan. Oleh karena itu amat sangat penting bagi anda selaku atasan untuk dapat menentukan prioritas pekerjaan yang harus dilakukan, sehingga tidak ada kegiatan yang terlihat “mubazir” dan hanya sekedar membuat bawahan anda terlihat sibuk. Tanpa kemampuan untuk menentukan hal ini maka bawahan anda akan cenderung tidak tidak bisa membedakan antara suatu pekerjaan yang urgent dengan yang rutin karena setiap hari mereka selalu dikejar-kejar.
Berikan Kesempatan

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan bawahan dalam bekerja jarang sekali berakibat fatal. Artinya dari kesekian banyak kesalahan yang mungkin dilakukan masih terdapat peluang untuk diperbaiki dan diberikan kesempatan untuk berubah. Oleh karena itu, janganlah semata-mata memberikan hukuman kepada bawahan yang kebetulan melakukan kesalahan, tapi tolonglah dia dan berikan kesempatan kedua untuk memperbaiki dirinya.

Jika anda memang sudah menyerah terhadap kemungkinan perbaikan dari seorang bawahan, yaitu jika anda merasa bahwa pekerjaannya sangat tidak memuaskan dan dia tidak mungkin lagi dapat memaksimalkan pekerjaan tersebut (meski sudah dilakukan bimbingan dan pelatihan), janganlah berpura-pura menolongnya dan hentikanlah usaha-usaha melakukan kritik yang konstruktif, karena semua itu tidak akan berguna lagi.

Katakanlah kepadanya dengan terus terang bahwa pekerjaan yang dia lakukan tidak berhasil. Kemudian sarankan suatu mutasi ke bidang lain yang lebih sesuai, jika hal itu memungkinkan, atau berhentikan orang tersebut melalui prosedur yang berlaku.

Delegasikan Tanggungjawab
Salah satu hal penting dari sifat-sifat seorang atasan adalah bagaimana ia dapat mendelegasikan atau mewakilkan tanggungjawab dan wewenang kepada bawahannya. Seorang atasan yang buruk tidak akan pernah mau dan mampu mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang kepada bawahannya. Sebaliknya atasan yang lemah akan terlalu mudah mendelegasikan tanpa adanya pengawasan atau kontrol yang cukup

Sementara itu jika anda ingin menjadi atasan yang yang baik maka delegasikan tanggung jawab dan wewenang anda dengan suatu catatan atau agenda yang memuat waktu penyelesaian pekerjaan tersebut. Mintalah laporan perkembangan pekerjaan pada waktu-waktu tertentu dan lakukan tindakan-tindakan yang positif jika permasalahan muncul atau terjadi.
Dulu, kebanyakan model kepemimpinan yang diterapkan adalah menempatkan bawahan sebagai pelayan (autokratik) atau anak (paternalistik). Sekarang, kedua model ini sudah dianggap usang, karena hanya bisa mencapai target perusahaan dalam jangka pendek. Sebagai gantinya, kini banyak perusahaan yang mulai menerapkan model kepemimpinan pelayan atau servant leadership, yang memprioritaskan pemberdayaan karyawan sebagai ‘tiket’ untuk mencapai target dan keuntungan bagi perusahaan dalam jangka panjang.

Menurut pakar motivasi, Mario Teguh, kesuksesan karier seorang pemimpin sangat ditentukan oleh kemauan dan kemampuannya untuk melayani. “Mengapa seorang karyawan diberikan kompensasi gaji? Karena, mereka dinilai berharga. Mengapa mereka dianggap berharga? Karena, mereka dianggap penting untuk perusahaan. Mengapa mereka dianggap penting? Karena, mereka bersedia untuk melayani. Nah, hal yang sama juga berlaku untuk seorang pemimpin. Agar Anda dianggap penting (yang berarti juga berpengaruh), Anda juga harus mau dan siap melayani,” jelas Mario.

Dalam esensinya, pemimpin pelayan menawarkan sebuah konsep kepemimpinan yang mencetak pemimpin lain (regenerasi) dan bukan hanya mencetak anak buah. Pemimpin pelayan berpikir bahwa pada waktunya nanti, ia akan menyerahkan jabatannya kepada pemimpin lain. Sehingga, ia harus mempersiapkan anak buahnya menjadi pemimpin masa depan. Karena itu, pemimpin pelayan akan memosisikan bawahannya sebagai partner untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam penerapannya, kepemimpinan pelayan sering kali berbenturan dengan budaya perusahaan yang tidak produktif dan sudah ada sebelumnya. Untuk mengatasi hambatan tersebut, Mario menyarankan agar seorang pemimpin pelayan pemula untuk menjadi agent of change (agen perubahan) lebih dahulu.
Mario menambahkan, pemimpin bisa saja menegur bawahan dengan keras, tanpa harus kasar dan mematikan potensinya. Caranya, saat menegur, tekankan betapa pentingnya peran bawahan tersebut bagi perusahaan. Dengan demikian, bawahan akan memiliki motivasi untuk berubah. Misalnya, bila bawahan Anda melakukan kesalahan dalam penyusunan laporan, Anda dapat mengatakan, ”Saya merasa Anda sangat penting dalam tim kita. Namun, karena kesalahan Anda, saya jadi kerepotan dan rekan-rekan Anda mendapat teguran. Bagaimana bila laporan itu segera Anda perbaiki?”

Selain harus mampu memilih kata-kata yang tepat saat menegur bawahan, pemimpin pelayan juga harus membekali diri dengan kemampuan ’bercerita’ (story telling). Artinya, agar pemimpin bisa mengubah budaya perusahaan, ia harus mampu berbicara kepada seribu orang seperti kepada satu orang. Hal ini merupakan ilmu komunikasi yang sulit, karena pemimpin harus lebih dulu mengetahui latar belakang dan tujuan para bawahannya bekerja.

05
BELAJAR UNTUK MENCINTAI PIMPINAN

“Hai orang yang beriman, taatilah Allah swt. Dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (seseorang yang berwenang menangani urusan-urusan kamu) diantara kamu (QS an-Nisa [4] : 59) Belajar untuk mencintai produk

06
MENCINTAI RELASI/JARINGAN/NETWORK

Seratus kali sehari, kuingatkan diriku bahwa kehidupan dalam dan kehidupan luarku bergantung pada hasil kerja oranglain, dan aku harus mengusahakan agar diriku dapat memberi sebanyak yang telah kuterima

Albert Einstein

Suatu ketika rasulullah bersama para sahabat dan mereka didera kelaparan. Salah seorang diantara sahabat berkata, “saya mencari kambing” yang lain berkata, “saya akan menyembelihnya” yang lain berkata, “saya akan mengulitinya” yang lain berkata, “saya akan memasaknya. Dan rasulullah berkata, “saya yang akan mengumpulkan kayu bakarnya

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw. Bersabda,”Berdua lebih baik daripada sendiri. Bertiga lebih baik daripada berdua, berempat lebih baik daripada bertiga. Hendaklah kamu sekalian berjamaah, karena tangan Allah swt. Bersama dengan jamaah.

07
BELAJAR UNTUK MENCINTAI PESAING

Pesaing bukanlah musuh anda tapi mitra yang akan membuat anda semakin berkembang, pesaing akan memperbesar pasar, sebab, tanpa kompetisi industri tak akan berkembang, dan yang paling penting pesaing merangsang kita untuk selalu berpikir kreatif.

Persaingan di tempat kerja adalah sesuatu yang sangat wajar, karena di sana kita tidak melakukan segala sesuatunya sendirian – ada orang-orang lain yang juga harus mengerjakan tugas yang sama dengan kita.
Kalaupun kita berkata bahwa kita sudah membentuk suatu tim kerja yang sangat bagus sehingga tidak mungkin terjadi persaingan, akan selalu ada kompetitor yang lain. Sebagai contoh, di dunia media cetak sendiri, bukan hanya satu koran yang eksis, tetapi ada banyak koran yang menjadi kompetitor satu dengan yang lain.

Selama kita menyikapinya secara positif, persaingan justru akan menolong kita untuk memunculkan puncak potensi yang kita miliki, karena tujuan persaingan adalah untuk menuntut kita memunculkan kreativitas, keahlian dan potensi terpendam yang selama ini belum tergali. Yang perlu dipastikan adalah, entah persaingan itu terjadi di dalam perusahaan atau antar perusahaan yang lain, ada batasan-batasan etika kerja yang harus tetap kita pegang. Selama kita terus memegang etika-etika kerja yang ada dalam sebuah kompetisi, maka persaingan adalah sesuatu yang wajar. Hal lain yang juga harus diperhatikan yaitu dalam persaingan tidak boleh ada saling menjatuhkan/saling menyerang; kita hanya boleh berlomba-lomba mengungguli potensi yang dimiliki oleh ‘pesaing’ kita. Jika persaingan itu terjadi dalam satu perusahaan yang sama, kita harus tetap melakukannya dengan landasan pemahaman bahwa kita berada dalam satu tim, karena jika kita saling menjatuhkan/saling menyerang, kompetisi yang ada akan menjadi tidak sehat; perlahan tapi pasti perusahaan yang ada akan mengalami kemerosotan karena digerogoti dari dalam.

Persaingan yang sehat untuk mengungguli potensi rekan kerja kita secara otomatis justru akan membuat perusahaan tempat kita bekerja menjadi lebih maksimal dan lebih unggul.

Indikator bahwa persaingan yang ada mulai menjadi tidak sehat adalah ketika kita mulai saling serang/saling menjatuhkan atau melakukan segala cara untuk mendapatkan promosi. Contoh: ‘menjilat’ pemimpin demi mendapat ‘perhatian lebih’ adalah tanda bahwa persaingan yang ada sudah mulai menjurus ke arah yang negatif.

Menghadapi persaingan yang tidak sehat
Jika ternyata ada ‘pesaing’ yang menghalalkan segala cara dan memiliki tujuan negatif, hal pertama yang harus kita pastikan adalah tetap memiliki sudut pandang dan sikap hati yang bersih, karena dari situlah kita bisa memastikan bahwa kita tetap memegang rule persaingan yang sehat. Mungkin pihak lainnya mulai keluar dari batasan-batasan etika dari kompetisi yang sehat, tetapi kita tidak boleh ikut-ikutan.

Yang kedua, kita bisa mencoba untuk mengubah ‘rencana jahat’ dari pesaing-pesaing kita menjadi ‘energi penggerak’ bagi kita sendiri, atau dengan kata lain, mencoba menyikapi niat jahat pesaing dengan respon yang positif, sehingga kita justru bisa membuat niat jahat pesaing kita menjadi batu loncatan, bukan batu sandungan. Dengan mengetahui bahwa ada orang yang ingin menjatuhkan kita, kita akan menjadi lebih waspada, sehingga kita pun terus terdorong untuk memaksimalkan potensi-potensi yang kita miliki. Akan tetapi, jika kita meresponi ‘rencana jahat’ itu secara negatif, kita pun akan mulai terpancing untuk merencanakan hal-hal jahat demi menjatuhkan lawan kita. Itu sebabnya kita perlu memiliki sudut pandang dan sikap hati yang bersih. Tanpa sudut pandang dan sikap hati yang bersih, kita akan dengan mudah terjebak dalam persaingan yang bersifat saling serang, dan pepatah yang berkata “Gajah berkelahi melawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah” akan bisa terjadi; dalam hal ini tidak ada yang diuntungkan, sebaliknya, kedua pihak justru dirugikan. Di sisi lain, kalau pun kita berhasil menyingkirkan pesaing kita, hal itu tidak akan memberi keuntungan apa-apa bagi kita, karena sama halnya jika kita menaburkan kejahatan, sekali waktu kita pun akan menuai apa yang ditabur itu.

Dengan terus menjaga sikap hati dan sudut pandang agar tetap bersih, meskipun ada orang-orang yang ingin menjatuhkan kita, kita justru bisa memanfaatkan situasi tersebut untuk mengembangkan kapasitas kita. Toh kita sendiri yang akan diuntungkan, karena bagaimanapun juga, sebuah perusahaan akan selalu melihat berdasarkan prestasi.

Lalu yang ketiga, kita perlu terus mengembangkan kemampuan dan kapasitas yang kita miliki, karena semakin kapasitas kita berkembang, semakin persaingan akan jauh dari kita. Ada sebuah buku yang sangat bagus, berjudul ‘Blue Ocean Strategy’ yang membagikan prinsip-prinsip tentang bagaimana kita bisa menghindari persaingan, yaitu dengan mencari peluang-peluang baru, mengembangkan kapasitas-kapasitas terpendam yang kita miliki, sehingga itu akan membuat kita ada di atas rata-rata. Jika kita ada di atas rata-rata, siapa yang akan bersaing dengan kita? Tetapi jika kita masih rata-rata, persaingan yang ada akan menjadi sangat ketat.

Jika kita melihat orang-orang yang tidak memiliki kapasitas atau kemampuan berhasil mendapatkan promosi karena mempergunakan cara-cara licik -sementara kita yang sudah bekerja keras tetap tidak mendapat promosi apapun- satu hal yang saya tegaskan, jangan pernah ikut-ikutan! Tetap tunjukkan etika kerja dan etika bergaul dengan pemimpin dan rekan kerja secara positif. Di sisi lain, kembangkan terus kapasitas dan kemampuan kita dan tunjukkan progresifitas kerja kita. Pastikan kita terus belajar meningkatkan kualitas atau mutu kerja kita, sehingga dengan sendirinya, secara kasat mata kinerja kita tampak lebih bagus daripada para ‘penjilat’ tersebut.

Saya mendapati, orang-orang yang sering kali diberi label ‘penjilat’ sebenarnya hanya memiliki kemampuan untuk melobi pemimpin – mencoba menyukakan pemimpin, namun tanpa hasil kerja sama sekali. Cepat atau lambat, pemimpin akan bisa melihat bahwa orang tersebut hanya pintar berbicara namun tidak ada bukti kerja yang nyata. Walaupun pemimpin kita mungkin tidak mengetahui kondisi lapangan secara langsung, hasil kerja seseorang pasti akan berbicara lebih nyaring dari omongan siapapun juga.

Kita juga perlu mengembangkan kemampuan untuk dapat melihat situasi atau permasalahan dari sudut pandang yang berbeda. Misalkan ada sebongkah batu di tengah jalan, si A mungkin berkata, “Batu itu harus disingkirkan karena akan membahayakan orang yang lewat”, sedang si B berkata, “Batu ini bagus, karena bisa saya jadikan batu loncatan.” Kedua hal ini hanya dibedakan oleh sudut pandang; sudut pandang yang berbeda akan membuat orang yang bersangkutan menyikapinya dengan cara yang berbeda pula. Demikian pula dengan setiap peristiwa/situasi/keadaan yang terjadi dalam hidup kita. Ada orang yang ketika menghadapi situasi A menjadi patah semangat, kecewa, marah, atau tersinggung, sementara orang lainnya lagi justru menganggap situasi tersebut sebagai sesuatu yang menantang. Kemampuan untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang positif akan memacu kita untuk menjadi lebih baik dan bukan terjebak dalam gejolak emosi negatif.

Jika iklim tempat kerja kita mulai menjadi tidak nyaman karena adanya persaingan yang negatif dan menajam, saran saya, jangan buru-buru mengambil keputusan apapun, apalagi dengan kondisi hati yang sedang bergejolak karena kemarahan sehingga pikiran sehat kita mulai kabur. Ajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri Anda sendiri sebagai bahan evaluasi. Yang pertama, apakah kita sungguh-sungguh mencintai pekerjaan yang sedang kita tekuni ini? Jika jawabannya adalah ya, itu berarti kita harus berpikir ulang untuk melepaskannya, karena saya mendapati ada banyak sekali orang yang bekerja namun tidak mencintai dan menikmati pekerjaannya. Rata-rata mereka bekerja karena tekanan keadaan, sehingga mereka terpaksa menerima pekerjaan apapun demi menyambung hidup. Jadi, pikirkan ulang, apakah kita sungguh-sungguh mencintai pekerjaan tersebut. Jika ternyata kita tidak menyukai pekerjaan itu, akan lebih mudah untuk mengundurkan diri. Sebaliknya, kalau kita memang mencintai pekerjaan kita, persaingan yang ada hanya perlu kita sikapi sedemikian rupa agar bisa menghasilkan efek positif bagi kita.

Pertanyaan kedua yang perlu kita ajukan adalah: Apakah perasaan-perasaan tidak nyaman itu datang dari persaingan yang sedang terjadi, atau hanya perasaan kita sendiri? Jika kita mendapati bahwa itu hanya perasaan kita belaka, yang perlu kita lakukan hanya membatalkan rencana pengunduran diri tersebut. Tapi, jika ternyata perasaan tidak nyaman itu disebabkan oleh aura persaingan yang negatif, kita harus memikirkan lebih lanjut, apakah kita masih sanggup menolerirnya atau tidak.

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang harus kita pikirkan sebelum mengambil sebuah keputusan. Lalu bagaimana jika kita bukan salah satu pihak yang terlibat dalam persaingan, tetapi kita ada di tengah-tengah (mungkin di ruangan yang sama) dengan orang-orang yang sedang bersaing itu? Nah, ini juga harus menjadi pertimbangan tersendiri bagi kita: apakah kita masih tetap bersedia menjadi ‘penengah/juru damai’ bagi mereka? Karena ada orang-orang yang tetap merasa tidak nyaman dengan iklim persaingan yang ada, walaupun dia sendiri tidak sedang terlibat dalam kompetisi yang ada. Apakah kita akan tetap bertahan di tempat pekerjaan yang sekarang atau mencari pekerjaan baru dengan iklim kerja yang lebih kondusif, semua itu kembali berpulang kepada keputusan kita masing-masing. Tetapi, sekali lagi saya sarankan, jangan buru-buru mengambil sikap apapun juga jika Anda belum membuat pertimbangan yang matang.

Apabila kita ‘terjepit’ di tengah dua orang yang sedang bersaing (sedangkan kita memutuskan untuk bertahan di tempat kerja, sementara suasana semakin memanas), yang perlu kita lakukan hanyalah terus membangun hubungan atau komunikasi dengan semua orang secara tulus. Cobalah berikan pengaruh positif kepada teman-teman yang sedang bersaing itu, karena persaingan yang tidak sehat dalam sebuah perusahaan justru akan merugikan kita sendiri. Seandainya persaingan yang tidak sehat itu tetap diteruskan, maka perusahaan akan mengalami kerugian dalam kinerja karyawannya, sehingga sekali waktu pemimpin yang ada akan mengambil sikap tegas, entah berupa perampingan, PHK, atau hal-hal lain yang tidak diharapkan.

Jadi, saran saya, mari singkirkan segala jenis persaingan yang tidak sehat, yang menghalalkan segala cara, dan bersainglah secara positif. Belajarlah untuk terus mengembangkan kapasitas sehingga kita bisa menjadi lebih baik dan lebih unggul dari sebelumnya, karena persaingan yang positif akan membuat perusahaan ikut menikmati manfaatnya. Ketika perusahaan bisa mendapatkan keuntungan dari persaingan yang sehat, kita pun pasti akan menikmati keuntungan juga.

Melibatkan pemimpin agar konflik yang ada bisa terselesaikan adalah hal yang wajar. Biasanya, pemimpin akan segera meresponi/menanggapi kondisi yang ada, karena jika kondisi negatif terus dibiarkan berkecamuk di tengah perusahaan, pemimpin pun akan ikut dirugikan. Ketika pemimpin mulai melihat ada sesuatu yang salah di perusahaan dan mulai bertindak untuk menjadi penengah (memotivasi para pekerja untuk bekerja dengan lebih profesional dan maksimal), maka iklim yang sudah terlanjur jelek itu akan dapat dibereskan, sehingga kita bisa kembali bekerja dengan tenang.

Bagaimana jika saya memutuskan untuk keluar?
Jika pada akhirnya kita memutuskan untuk mencari tempat kerja yang baru, jangan buru-buru melangkah. Lakukan perhitungan dengan matang, karena jika kita terlanjur mengundurkan diri dan tidak kunjung mendapatkan pekerjaan yang baru, hal ini akan menjadi bumerang bagi diri kita sendiri. Pastikan kita memiliki cukup tabungan untuk mem-back up kita selama masa-masa transisi – sejak kita mengundurkan diri sampai menemukan pekerjaan baru. Jika kita mengundurkan diri, secara otomatis kita tidak akan mendapatkan pesangon apa-apa dari perusahaan. Kalaupun kita sengaja membuat ulah agar dipecat, hal itu hanya akan berakibat pada rusaknya integritas kita sendiri, sementara integritas dan reputasi adalah sesuatu yang jauh lebih mahal dari apapun juga.

Yang kedua, pastikan di tempat pekerjaan yang baru nanti sudah tersedia jenis pekerjaan yang kita sukai. Apa gunanya meninggalkan pekerjaan yang lama –yang kita sukai– untuk mendapatkan pekerjaan baru yang tidak kita sukai? Apa gunanya meninggalkan pekerjaan lama yang tidak kita sukai, untuk mendapatkan pekerjaan baru yang tidak kita sukai juga?

Yang ketiga, pastikan kita melakukan pengunduran diri dengan cara yang terhormat. Sampaikan kepada pemimpin kita jauh hari sebelumnya, dan apabila memungkinkan, cari orang lain yang bisa menggantikan posisi kita dan latih orang tersebut untuk melakukan pekerjaan yang selama ini kita lakukan, sehingga kinerja perusahaan yang ada tidak akan terganggu ketika kita keluar. Saya mendapati, hal ini sangat erat kaitannya dengan integritas
.

Yang terakhir, kalaupun kita harus mundur, tetap tunjukkan hasil kerja yang maksimal sampai hari terakhir kita bekerja. Bagaimana pun, sekali lagi, integritas adalah sesuatu yang sangat berharga.

Persaingan di luar ruang lingkup perusahaan

Sebagai salesman yang justru menghadapi persaingan di luar ruang lingkup perusahaan, seringkali orang berpikir, untuk menunjukkan hasil kerja yang bagus dibutuhkan perhitungan keuntungan jangka pendek belaka: “Yang penting bulan ini target saya tercapai”. Ia tidak berpikir untuk melihat keuntungan jangka panjang. Padahal ketika berbicara tentang sebuah pekerjaan, kita perlu berpikir jauh ke depan. Alasan mengapa seorang salesman menyikapi sebuah persaingan dengan menjelek-jelekkan atau menjatuhkan produk salesman saingannya di hadapan calon pembeli adalah karena ia hanya memikirkan keuntungan sesaat. Seandainya ia berpikir untuk jangka panjang, tindakannya pasti akan berbeda. Mari terus tingkatkan mutu kerja dan mutu produk kita, sehingga ketika kita menawarkan produk, kita tahu dengan pasti bahwa produk kita adalah yang terbaik di pasaran, dan sebagai hasilnya kita dapat memberikan jaminan dan bukti kepada calon pembeli — bukan hanya sekedar janji.

Di sisi lain, sebagai seorang sales, kita perlu mengasah kreativitas untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada calon pembeli, karena saya percaya ini akan meningkatkan daya beli customer sehingga target yang ditetapkan perusahaan secara otomatis ikut menanjak. Selain itu, kita juga perlu menjaga hubungan dan komunikasi yang baik dengan para pembeli, karena tanpa kedua hal itu, hubungan yang ada tidak akan langgeng dan akan berdampak pada hasil kerja kita, karena pekerjaan seorang sales adalah pekerjaan jangka panjang.

Selain sudut pandang yang positif, juga dibutuhkan sikap yang sportif. Jika pesaing kita memang bisa menonjolkan sesuatu yang lebih unggul dari kita, kita harus memiliki cukup ke-sportif-an untuk mengakui keunggulan tersebut. Sikap sportif sangat perlu kita miliki, karena itu adalah bagian dari etika di dunia kerja. Bagaimanapun juga, jika dalam diri atau produk kita memang ada hal-hal yang harus dibenahi, kita harus bersedia mengakui hal tersebut. Tanpa sportifitas, kita tidak akan membuat pembenahan apapun, dan dengan sendirinya tidak akan ada kemajuan atau peningkatan (dari produk yang kita tawarkan maupun dari diri kita sendiri), sehingga cepat atau lambat kita akan tersingkir dari persaingan.

Persaingan dalam dunia kerja adalah sesuatu yang sangat wajar; sikapilah setiap persaingan dengan etika kerja dan cara-cara yang positif, sehingga persaingan tersebut dapat memacu kita untuk terus menjadi yang terbaik, baik dalam kapasitas maupun kreatifitas, sehingga hasil kerja dan produk kita akan selalu berada di urutan terdepan
Bila anda ingin bekerja lebih sedikit dan memperoleh lebih banyak; jagalah inti kesederahanaan dalam pikiran : lebih baik bekerja dengan manusia, daripada melawan manusia. Bila kita dapat mengendalikan waktu dan energi yang disia-siakan yang terjadi sebagai akibat pertengkaran yang tidak perlu antar individu, perusahaan-perusahaan, pemerintahan-pemerintahan dan bangsa bangsa, apa yang dapat diperoleh manusia sesungguhnya akan meningkat sedikitnya seratus kali lipat. Sayangnya, manusia selalu merupakan makhluk yang bertengkar
Semua pertengkaran tidak selalu buruk atau tidak diperlukan. Banyak situasi pertentangan dan tekanan dapat membentuk kita menjadi manusia yang lebih kokoh dan lebih baik. Sayang, pertentangan antar pribadi merupakan sesuatu yang tidak produktif dan suatu pemborosan energi yang tidak perlu terjadi.

Tenis membutuhkan lawan
makin terbuka peluang memenangkan persaingan. Dalam praktek bisnis, situasi ini persis seperti main catur. Kita selalu meraba masuk ke dalam pikiran lawan, mencari strategi seperti apa yang mereka gunakan.
Untuk mendapat mengetahui informasi lawan, tidak dapat hanya mengandalkan suatu keberuntungan, seperti menunggu hujan datang dari langit. Perlu kegiatan ‘intilejen’ yang tangguh, dan dikombinasikan dengan logika dan penghitungan yang tepat.
Layaknya sebuah perang, produsen dan pemasar banyak yang menggunakan, bahkan mengandalkan mata-mata untuk bisa memenangkan persaingan. Perusahaan-perusahaan di negeri Paman Sam, mau menghabiskan dana USD24-USD100 miliar, hanya untuk memata-matai lawan bisnisnya. Betapa pentingnya arti menganalisa strategi lawan bagi mereka.
Salah satu kisah klasik tetang intilejen terjadi pada persaingan pada industri elektronik, khususnya komputer. Jepang, negara yang paling handal dalam hal industri elektronik, tak memiliki pangsa pasar yang memadai dalam industri komputer pribadi atau PC. Justru negara Taiwan-lah yang merajai.
Menurut rumor yang berkembang, ketika IBM ingin memproduksi PC secara massal, mereka tak mencari kontraktor Jepang, melainkan Taiwan. Tak lama setelah itu, Taiwan merajai dunia PC dengan ‘jangkrik’-nya.
Banyak hal-hal yang dapat dilakukan untuk mendapatkan informasi lawan, ada empat tahap sederhana. Pertama, perencanaan. Pada tahap ini kita harus mengetahui tujuan apa yang akan kita raih. Untuk memuluskannya, rumuskan informasi apa yang akan diperlukan untuk bisa mengalahkan pesaing.
Kedua, mengumpulkan informasi. Informasi yang kita perlukan, tak semuanya didapat dari kegiatan mencuri, apalagi menyewa mata-mata untuk menjegal lawan. Itu persaingan yang kotor. Bagaimanapun juga, posisi pesaing dapat digunakan sebagai alat pemacu bisnis, dan meningkatkan kualitas, untuk bisa menemukan inovasi dan kreasi baru.
Banyak hal yang dapat dilakukan dengan metode sederhana, yakni wawancara, observasi, menganalisa dengan formula (Strengten, Weaknes, Opportunity, dan Threat) SWOT, atau membaca langkah bisnis pesaing dari media massa.
Ketiga, pada tahap ini informasi maupun data yang sudah ada di tangan harus dianalisa dan digodok, kalau perlu dibuat peta dan grafik Jika sudah matang menjadi sebuah initisari informasi, bisa dijadikan pertimbangan dan strategi yang akan menentukan tujuan kita.
Keempat, semua hal yang sudah diperoleh disosialiasikan dan dipraktekan oleh entitas bisnis kita untuk dapat mengalahkan pesaing
Beberapa waktu silam, saya menonton film kolosal Troy di bioskop. Di film itu dikisahkan, dua kerajaan besar berperang habis-habisan, sehingga kedua-duanya akhirnya kolaps. Ketika beranjak dari bioskop, saya malah coba membayangkan yang sebaliknya, “Andaikan mereka hidup berdampingan dan saling melengkapi, wah alangkah indahnya!” Mungkin tidak ada produser yang berhasrat untuk memfilmkan khayalan saya. Tetapi, saya benar-benar yakin andaian itu sangat menyenangkan untuk dijalani di dunia nyata.Yah, seruan untuk menyantuni pesaing itu memang ideal. Tetapi, tunggu dulu! Apakah paradigma ini masih masuk akal? Apalagi mengingat landskap bisnis yang kian sengit dan rumit. Hm, simpanlah kekuatiran Anda karena saya punya segudang alasan untuk mempersilakan, bahkan mencintai pesaing. Hei, bukan mentang-mentang saya penggagas Marketing with Love.

Educating the Customers
Pelopor positioning Al Ries pernah wanti-wanti, bersikap bersahabatlah terhadap pesaing. Al Ries terus mencontohkan, Coca Cola sebenarnya berhutang budi kepada Pepsi Cola. Lho, kok bisa? Karena perseteruan antara Coke dan Pepsi membuat konsumen semakin sadar akan keberadaan minuman kola.

Al Ries tidak mengada-ada. Ingat, konsumen selalu memiliki banyak pilihan. Mengapa harus kola? Toh, mereka bisa saja memesan air mineral, teh botol, jus buah, energy drink, atau yang lain. Coke akan kelabakan dalam mendidik atau mengedukasi konsumen untuk menyukai kola, apabila bermain sendirian. Untunglah, kemudian Pepsi muncul (Kendati, saat itu Coke langsung menyeret Pepsi ke pengadilan).

Kalau begitu, tidak cuma Coke yang berhutang budi kepada pesaingnya. Untuk minyak goreng dalam kemasan, Bimoli juga harus berterima kasih kepada Filma. Untuk kacang sebagai snack, Kacang Garuda pun mesti tahu diri terhadap Kacang Dua Kelinci. Untuk telekomunikasi berbasis CDMA, Flexi juga tidak boleh melupakan jasa Star One. Di Batam, kita menyaksikan hal yang sama pada Batam Pos (Jawa Pos Group) dan Tribun Batam (Kelompok Kompas-Gramedia).

Gathering the Customers

Dalam bahasa yang lugas dan cerdas, Asian Marketing Guru Hermawan Kartajaya pernah mengumpamakan, pedagang martabak akan kelimpungan kalau berjualan sendirian. Ia akan sangat terbantu jika penjaja martabak yang lain ikut nimbrung di sampingnya. Begitu para penjual martabak berkumpul, maka pastilah pembeli akan berbondong-bondong mendatangi tempat tersebut.

Karena itulah di Jakarta para pedagang barang antik mangkal di Ciputat. Restoran-restoran untuk kalangan middle-upper berjejer di Citos. Bahkan kampus Trisakti dan Untar berdiri berdekat-dekatan. Hm, mau contoh lagi? Penjaja souvenir di Yogyakarta mengelompok di Malioboro. Lebih dari seratus tukang nasi goreng di Palembang berbaris di dekat Stadion Olahraga.

Bagaimana dengan di Batam? Tengok saja suplier keramik di Nagoya, pedagang emas di Sei Jodoh, serta gerai ponsel di Lucky Plaza. Fenomena ini tidak jauh berbeda dengan kota-kota di beberapa negara yang sempat saya kunjungi. Di mana, berkumpulnya penjual dengan barang sejenis di suatu kawasan akan menyedot para konsumen untuk singgah, lantaran banyaknya pilihan yang tersedia. Dalam bahasa yang berbeda, pengusaha MJ. Prasetya juga sharing hikmah yang sama di Entrepreneur University.

Expanding the Market

Partner saya Jaya Setiabudi pernah mengungkapkan, “Kalau makan kue sendirian, bisa enek. Mendingan makan kue bareng-bareng.” Memang, munculnya pesaing berkemungkinan untuk memperkecil irisan kue (market share) yang selama ini kita nikmati. Itu tidak bisa disangkal!

Tetapi, mohon dicatat baik-baik. Di waktu yang sama, hadirnya pesaing turut memperbesar ukuran kue (market size). Inilah manfaat utama dari persaingan: mengedukasi dan menghimpun konsumen, sehingga pada akhirnya memperluas pasar secara keseluruhan!

Anda pernah mendengar cerita sedih Polaroid? Di akhir 90-an, mereka gagal mendidik konsumen akan pentingnya foto instan. Salah satu penyebab kegagalan mereka adalah minusnya pesaing di industri foto instan -yang seharusnya menjadi mitra mereka dalam mengedukasi konsumen. Kini, Polaroid entah di mana.

Untuk konteks Indonesia, Anda masih ingat nasi goreng instan Taranasiku? Perihal kegagalan, mereka adalah Polaroid-nya Indonesia. Nah, coba Anda bandingkan dengan mie instan Indomie! Terbukti, maraknya pemain mie instan malah memperluas pasar mie instan secara keseluruhan.

Improving Self-Performance

Ada pepatah yang menasehati, “Semakin tinggi pohon, semakin kuat anginnya.” Itu pula yang terjadi dalam rimba bisnis. Namun demikian, Aa Gym -selaku pengusaha sekaligus inspirator bangsa- menganjurkan dan mengajarkan, janganlah takut atau benci pada pesaing. Jangan pula meremehkan. Karena, di satu sisi memang Tuhan yang menciptakan pesaing. Itu sudah sunatullah!

Sedangkan, di sisi lainnya Dia juga telah menjamin rezeki setiap pemain. Dalam salah satu ayat di kitab suci ditegaskan, “Setiap makhluk yang diciptakan Allah sudah lengkap rezekinya.” Lagi pula, bukankah Tuhan itu Maha Kaya? Bukankah karunia-Nya Maha Berlimpah? Jadi, jangan pernah sekalipun khawatir tidak kebagian rezeki. Malah, sesungguhnya persaingan itu adalah anugerah, bukan musibah! Apa alasannya?

Secara sederhana Aa Gym mengambil analogi, “Apa gunanya jadi juara umum, kalau ternyata balap karung sendirian? Apa gunanya jadi juara dunia, kalau ternyata lawannya hanya anak TK?” Tontonlah kembali film Troy! Petarung-petarung kerajaan sangat bangga apabila dipertemukan dengan petarung paling tangguh di negeri itu. Kenapa? Yah, gampang untuk dipahami. Pesaing-pesaing yang sedemikian akan memicu dan memacu potensi diri. Bukankah itu anugerah?

Teman saya Nurul Huda -seorang penulis lebih dari 20 buku cerita remaja- dengan rajin membina para penulis pemula. Sepintas tampaknya dia tengah membesarkan pesaing. Tetapi ia berpendapat, “Tanpa persaingan, tidak akan ada peningkatan.” Apa yang ia yakini adalah: dengan memajukan orang lain, maka kita pun semakin maju.

Saya contohkan lagi. Semangat customer-centric Telkom justru menggebu-gebu beberapa tahun terakhir, tatkala dihadapkan dengan pesaing sekelas Indosat. Bilamana kita perhatikan, industri penerbangan domestik mau tidak mau kudu bekerja dan berkinerja lebih efisien, lantaran beroperasinya Air Asia. Fenomena serupa juga saya ceritakan dalam buku saya Hot Branding: Cara Paling Panas Mengorbitkan Merek. Istilahnya, anti-brand.

Conducting Benchmarking
Ketika saya dan walikota setempat membawakan satu seminar spiritual, di situ sempat saya sampaikan manfaat lain dari persaingan adalah sebagai kayu ukur. Maksudnya, apabila nyatanya pesaing lebih lihai dan piawai daripada kita, ya sudah, tiru saja! Jangan sungkan!

Inilah yang disebut dengan benchmarking, salah satu manuver ampuh untuk menggembleng diri. Sekali lagi, jangan sungkan! Korporasi sebesar Wings, Xerox, dan Toyota saja tidak segan-segan untuk melakoni benchmarking. Nah, teknik benchmarking ini sering pula dikaitkan dengan konsep 5 N dalam Bahasa Jawa, yaitu Niteni, Nitili, Niroake, Nambahi, Nempili. Bahasa gampangnya ATM alias Amati, Tiru, Modifikasi. Untuk jelasnya, bacalah buku Qalbu Marketing, karya saya bersama Aa Gym.

Creating Positive Image
Manfaat berikutnya, persaingan akan mencurahkan citra yang positif (positive image) kepada seluruh pemain. Cermatilah PLN! Apakah mereka disukai? Yah, bukan rahasia lagi, masyarakat cenderung emoh terhadap pemain monopoli. Seandainya PLN didampingi oleh pesaing yang riil, pastilah kisahnya bakal berbeda. Karena, belum tentu prestasi pesaing tersebut lebih oke ketimbang prestasi PLN. Dengan demikian, serta-merta kita akan lebih menghargai PLN, karena kita sudah punya pembanding.

Nah, alih-alih untuk diluluh-lantakkan, pesaing hendaknya disambut dengan suka-cita. Love your competitors! Boleh-boleh saja Anda tidak percaya pada kalimat barusan, namun setidak-tidaknya dengarlah petuah resi manajemen Gede Prama, “Kalau perlu, pesaing malah harus diciptakan.” Pantaslah ada rangkaian kata-kata yang apik dan menarik, “We are born to complete, not to compete.”

Sebagai penutup, barangkali ada baiknya jika saya imbuhkan sabda Nabi Muhammad, “Allah tidak akan berbelas kasih kepada seseorang, apabila orang itu tidak mengasihi sesamanya.” Ada pula firman Tuhan, “Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan rahmat bagi semesta alam,” dan “Janganlah sekali-kali kebencian engkau terhadap suatu golongan mendorong engkau untuk berlaku tidak adil.” Begitulah sejatinya paradigma yang Anda anut sewaktu bergumul di suatu pasar.

Ippho adalah penulis Qalbu Marketing (bersama Aa Gym), pendiri dan produser Andalus.

08
BELAJAR UNTUK MENCINTAI WAKTU DAN PELUANG

Jangan menunggu, waktunya tidak akan tepat. Mulailah di tempat dimana anda berdiri dan bekerjalah dengan peralatan apapun yang anda miliki. Napoleon Hill, Think Grow Rich

Satu menit di masa depan adalah lebih berharga dari seribu tahun yang telah lampau. Telat satu menit terkadang tidak bisa dikejar dengan seribu tahun.

Waktu tidak dapat dapat di hemat. Waktu hanya dapat digunakan dengan cermat. Setiap bagian kehidupan anda sekarang menunjukkan bagaimana anda menggunakan waktu anda pada masa lalu. Jika menginginkan masa depan yang berbeda, anda harus menggunakan waktu dengan cara yang berbeda pula. Anda harus mengubah cara anda memandang diri anda sendiri dan bagaimana menggunakan waktu untuk meraih setiap mimpi yang diidam-idamkan

Waktu laksana uang, dapat dihambur-hamburkan sesuka kita atau dinvesatsikan. Jika anda menghamburkan waktu atau uang, ia akan habis selamanya. Anda tidak akan memperoleh waktu itu kembali. Namun jika waktu diinvestasikan dengan baik, anda akan memperoleh hasil yang lebih besar pada masa yang akan datang.

Waktu adalah sehelai kertas kehidupan yang harus ditulis dengan deretan kalimat kerja dan prestasi. Dia akan merasakan kehampaan yang luar biasa apabila waktu yang dilaluinya tidak diisi dengan kreasi, kalimat kerjanya terputus atau bahkan ia akan mengalami kekosongan jiwa apabila waktu yang kosong serta tidak memilki nilai apapun.

Bila saat ini kita berumur 35 tahun, seharusnya ada 35 jilid kehidupan yang berjudul nama Anda. Setiap jilid itu terdiri atas 12 bab. 365 halaman, dan setiap halaman terdiri 24 baris atau 8760 kata. Apakah baris-baris itu penuh dengan cerita yang exiting, kisah tentang persainga, kisah tentang perjalanan menuju keperpustakaan, diskusim, membaca, ataukah deretan kisah tentang sakit, tidur dan malas-malasan. Lantas a[a yang kita katakan pada pembaca buku kehidupan kita jika seteipa kertasnya kosong tanpa ada apa-apa

Jhon Maxwell. Seberapa besar pengaruh beberapa menit? Perhatikanlah apa yang terjadi jika kita menghemat….
Lima menit dengan meringkas waktu anda melakukan rutinitas pagi (berpakaiaan, bercukur, berdandan, minum kopi, baca koran dan sebagainya)
Sepuluh menit dengan meniadakan waktu yang dipakai untuk membereskan tas kerja
Lima menit menghindari percakapan sia-sia
Sepuluh menit dengan mempersingkat waktu makan siang
Mungkin 30 nenit diatas tidak begitu berarti. Tapi jika itu kita lakukan setiap hari, limahari seminggu selama lima puluh minggu kerja setahun, anda akan memperoleh waktu tambahan 125 jam setahunnya. (hal ini sama anda dapat menunggunakan tiga minggu masing-masing empat puluh jam kerja untuk apa saja yang anda inginkan). Dan jika anda penggandrung televisi andsa dapat melipoartkan waktu yang anda milikiu setiap tahunnya cukup dengan mengurangi menonton tiga puluh menit setiap hari.

sebe
Cinta mungkin satu-satunya kata yang paling diminati umat manusia sedunia dibandingkan dengan kata-kata yang lainnya. Cinta adalah kata yang tak pernah habis dieksplore para pujangga, kata adalah kalimat yang paling laris ditulis oleh para seniman. Cinta adalah kata sakti yang mampu menyedot perhatian para khlayak, tanpa merasa jemu. Cinta adalah satu kata yang selalu mempesona bagi para pembacanya

Cinta dan kasih sayang adalah fondasi ketenangan dan kebahagiaan. Cinta dan kasih sayang merupakan kebutuhan rohani yang paling dapat dinikmati, yang berkembang bersama waktu. Suatu aktivitas, apapun itu, jika dilandasi dengan perasaan cinta, betapapun beratnya akan terasa begitu ringan. Dengan cinta, seseorang akan mampu bertahan dalam derita, dengan penuh cinta, seseorang akan mampu mengeluarkan energi dengan maksimal dengan cinta suatu susah berubah menjadi mudah.

Kaitannya dengan oranglain, cinta seorang bisnismen kepada relasinya, merupakan aspek yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Sebagaimana yang telah kita ketahui cinta merupakan perasaan manusia yang alami. Setiap manusia selalu menyimpan perasaan itu dan selalu tertarik kepadanya. Manusia terus menerus membutuhkan cinta dan kasih sayang, tatakala tanggungan hidup mengalahkannya, malapetaka itu menimpa jiwanya, dan bilamana ia dipenuhi kepedihan sinar harapannya berhenti menerangi jiwanya. Pada saat itu kehausan manusia akan cinta sangat meningkat. Kehausan itulah yang menerangi hati manusia dengan harapan kelegaan dan kelapangan. Pada saat itu, ia tidak akan dapat menjamin ketentraman dan ketenangan bagi hati nuraninya kecuali dalam naungan cinta.

Adalah Rasulullah dalam sepanjang hidupnya di kenal dengan dengan pribadi yang welas asih, kepada siapaun dalam bergaul beliau selalu bertindak lembut dan penuh kecintaan. Termasuk juga kepada relasi-relasinya tatkala beliau sedang menjalankan bisnisnya. Beliau adalah orang yang sangat piawai dalam memberikan perhatian kepada orang-orang di sekelingnya, begitu piawainya beliau membagi perhatian itu. Hingga hampir semua orang yang bergaul dengan Rasulullah, merasa kalau dirinyalah orang yang paling distimewakan Rasulullah. Dengan sifat lembut penuh kasih inilah yang membuat para pelanggannya terus berdatangan, semakin hari, bukannya Rasulullah kehilangan pelanggan, tapi sebaliknya selalu saja pelanggan bertambah banyak. Rasulullah pernah mengatakan, “Barangsiapa yang memandang saudaranya dengan pandangan kasih sayang, maka dosanya diampuni” (HR Hakim dan Ibnu Umar)

“….apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah swt dan ingatlah Allah swt. banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS al-jumu’ah : 9-10)

Rasulullah bersabda, “Jagalah lima perkara, sebelum datang lima perkara; masa muda sebelum masa tua, masa sehat sebelum masa sakit, masa kaya sebelum masa miskin, masa lapang sebelum masa sempit, masa hidup sebelum masa mati.

Salwa, Rafi.

Siapapun orangnya pasti tidak suka diperlakukan dengan buruk, tidak suka dimasami, dipelototi, diperlakukan secara acuh tak acuh. Sebaliknya, semua orang berharap dirinya diperlakukan istimewa oleh oranglain. Inilah hukum dasar sebuah hubungan. Bahkan seorang pengemis pun, akan terluka hatinya bila ada orang memberinya sambil menghardik dan pemberian itu pun menjadi tidak lagi berarti baginya

Dalam dunia bisnis persoalan teramat pentingnya

Paradigma sinergisme berasal dari kata latin sunergos yang artinya bekerjasama, adalah kerjasama yang dibutuhkan antara dua orang atau lebih untuk meraih sebuah hasil yang lebih besar daripada hasil yang diraih sendiri-sendiri. Proses menjual dan membeli adalah sinergistik tidak peduli berapa banyak yang dijual oleh para penjual, proses itu tidak akan berjalan jika pembeli tidak siap.

Cinta merupakan hubungan timbal-balik antara anda dan pelanggan anda. Ketika anda mampu membuat oranglain –atau lebih spesifik pelanggan berkembang- seperti apa yang anda inginkan, pelanggan pasti semakin mencintai anda. Lebih jauh lagi, dengan mencintai pelanggan anda, anda pun didorong untuk berkekembang, bukankah ketika anda mencintai seseorang, anda ingin memberikan pelanggan yang terbaik.

Evelyn Underhill-mengutip pandangan
Dante-sastrawan Italia, mengatakan cinta merupakan perpaduan yang harmonis dan apik antara il desiro dan il velle, yaitu perpaduan antara hasrat yang kuat dan kerja yang keras. Lebih jauh Evelyn mengatakan, “I’amor che move il sole e le alter stele (cinta menjadi pendorong bagi pergerakan tatasurya)

Eibit G Ade,
Cinta yang kuberi sepenuh hati
Entah yang aku terima, aku tak peduli
aku tak peduli, aku tak peduli, aku tak peduli.

Dan Rasulullah. Nabi agung junjungan kita telah bersabda, “Barangsiapa yang memandang saudaranya dengan pandangan kasih sayang, maka dosanya diampuni” (HR Hakim dan Ibnu Umar)

St Agustinus, “Cinta memiliki tangan untuk menolong orang lain. Cinta mempunyai kaki untuk mendorong yang miskin dan membutuhkan. Cinta mempunyai mata untuk melihat penderitaan dan keinginan. Cinta memiliki telinga untuk mendengar rintihan dan kesengsaraan.

Cinta membuat orang awet muda, sebagaimana yang dikutip pada majalan reader digest. Salah satu ciri orang yang awet muda dan berumur panjang adalah memiliki setidaknya seseorang yang dicintai

Bila anda mencari sisi terbaik pada oranglain anda akan menemukan sisi yang terbaik pada diri sendiri.

ahi sapi bagi orang adalah kotoran, tapi bagi petani adalah pupuk

Jose Ortega, Di kedalaman sanubarinya, seorang pecinta merasa bahwa dirinya bersatu tanpa syarat tanpa syarat dengan objek yang dicintainya.

* * *
Cinta merupakan perpaduan yang harmonis dan apik antara il desiro (hasrat yang kuat) dan il velle, (kerja yang keras). Dante-sastrawan Italia,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.